Benarkah traktor tidak cocok digunakan di Jawa? Seorang teman mengatakan bahwa traktor 4-roda tidak cocok digunakan di Indonesia, khususnya di Jawa, karena pemilikan lahan petani yang sempit rata-rata kurang dari 0.5 ha. Terhadap pernyataan ini saya menyanggah, tidak setuju.

Mengapa demikian? Mengapa saya tidak setuju bahwa traktor 4-roda tidak cocok di Jawa yang rata-rata pemilikan lahan petaninya sempit? Alasan saya sederhana saja. Mari kita lihat kilas balik keberhasilan jaman dulu ketika diterapkan sistem sewa tanah untuk tanaman tebu oleh pabrik-pabrik gula. Untuk mempersiapkan tanam tebu, pengolahan tanah sawah yang berpetak-petak dilakukan serentak dengan menggunakan traktor 4-roda. Galengan pembatas sawah terpotong oleh terjangan bajak traktor, tetapi galengan tidak  sampai hilang seluruhnya sehingga nantinya –saat tanah dikembalikan ke petani ketika masa sewanya sudah habis– batas pemilikan lahan masing-masing petani masih bisa dikenali.

Jadi permasalahaannya bukan pada teknis operasional traktornya, melainkan pada bagaimana petani mau berkoordinasi untuk mengusahakan lahan pertaniannya secara bersama-sama. Kalau jaman dulu bisa berhasil karena mungkin petani terpaksa tunduk (takut) kepada pemerintah, jaman sekarang mungkin pemerintah bisa menjembatani petani membentuk semacam koperasi petani untuk mengusahakan lahannya secara bersama-sama tadi. Mungkinkah hal ini bisa dilaksanakan?